Yap teman-teman.. mari kita tambah lagi ilmu pengetahuan kita. :D kali ini saya akan membagikan materi tentang IMPERIALISME DAN KOLONIALISME. sebenarnya artikel saya ini hasil saya download sendiridan saya copy kan ke blog saya ini. tapi tentunya tidak copy paste begitu saja donk. saya melakukan cukup banyak perbaikan pada artikel ini. huwh.. dan panjang sekali ternyata.. 2 jam sendiri saya membenahinya.
kalau begitu sekarang simak aja yukk ..:D
bagi yang mau download file nya bisa Scroll page ini sampai bawah lalu klik aja tombol downloadnya
IMPERIALISME DAN KOLONIALISME
A. Pengertian Imperialisme dan Kolonialisme
A.1. Imperialisme
Istilah imperialisme yang diperkenalkan di Perancis pada tahun 1830-an ,
imperium
Napoleon Bonaparte. Pada tahun 1830-an, istilah ini diperkenalkan oleh
penulis
Inggris untuk menerangkan dasar-dasar perluasan kekuasaan yang dilakukan
oleh
Kerajaan Inggris. Orang Inggris menganggap merekalah yang paling berkuasa
(Greater
Britain) karena mereka telah banyak menguasai dan menjajah di wilayah
Asia dan
Afrika. Mereka menganggap bahwa penjajahan bertujuan untuk
membangun
masyarakat yang dijajah yang dinilai masih terbelakang dan untuk
kebaikan
dunia.
Imperialisme merujuk pada sistem pemerintahan serta hubungan ekonomi
dan
politik negara-negara kaya dan berkuasa , mengawal dan menguasai negaranegara
lain yang
dianggap terbelakang dan miskin dengan tujuan mengeksploitasi
sumber-sumber
yang ada di negara tersebut untuk menambah kekayaan dan
kekuasaan
negara penjajahnya.
Imperialisme menonjolkan sifat-sifat keunggulan (hegemony) oleh satu
bangsa
atas bangsa lain. Tujuan utama imperialisme adalah menambah hasil
ekonomi.
Negara-negara imperialis ingin memperoleh keuntungan dari negeri yang
mereka
kuasai karena sumber ekonomi negara mereka tidak mencukupi. Selain
faktor
ekonomi, terdapat satu kepercayaan bahwa sebuah bangsa lebih mulia atau
lebih
baik dari bangsa lain yang dikenal sebagai ethnosentrism, contoh bangsa
Jerman
(Arya) dan Italia. Faktor lain yang menyumbang pada dasar imperialisme
adalah
adanya perasaan ingin mencapai taraf sebagai bangsa yang besar dan
memerintah
dunia, misalnya dasar imperialisme Jepang.
Dasar imperialisme awalnya bertujuan untuk menyebarkan ide-ide dan
kebuadayaan
Barat ke seluruh dunia. Oleh karena itulah, imperialisme bukan hanya
dilihat
sebagai penindasan terhadap tanah jajahan tetapi sebaliknya dapat menjadi
3
faktor
pendorong pembaharuan-pembaharuan yang dapat menyumbang kearah
pembinaan
sebuah bangsa seperti pendidikan, kesehatan, perundang-undangan dan
sistem
pemerintahan.
Sarjana Barat membagi imperialisme dalam dua kategori yaitu imperialisme
kuno dan
imperialisme modern. Imperialisme kuno adalah negara-negara yang
berhasil
menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau yang mempunyai suatu
imperium
seperti imperium Romawi, Turki Usmani, dan China, termasuk spanyol,
Portugis,
Belanda, Inggris dan Perancis yang memperoleh jajahan di Asia, Amerika
dan
Afrika sebelum 1870, tujuan imperialisme kuno adalah selain faktor ekonomi
(menguasai
daerah yang kaya dengan sumber daya alam) juga termasuk didalamnya
tercakup
faktor agama dan kajayaan .
Sedangkan
Imperialisme modern bermula setelah Revolusi Industri di
Inggris
tahun 1870-an. Hal yang menjadi faktor pendorongnya adalah adanya
kelebihan
modal dan Barang di negara-negara Barat. Selepas tahun 1870-an , negaranegara
Eropa
berlomba-lomba mencari daerah jajahan di wilayah Asia, Amerika dan
Afrika.
Mereka mencari wilayah jajahan sebagai wilayah penyuplai bahan baku dan
juga
sebagai daerah pemasaran hasil industri mereka.
Dasar
Imperialisme ini dilaksanakan demi agama, mereka menganggap bahwa
menjadi
tugas suci agama untuk menyelamatkan manusia dari segala macam
penindasan
dan ketidakadilan terutama di negara-negara yang dianggap terbelakang
seperti
para misionaris Kristen yang menganggap misi penyelamat ini sebagai The
White Man Burden
Diantara
faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya imperialisme adalah faktor
dan
ekonomi
A.2. Kolonialisme
Koloni
merupakan negeri, tanah jajahan yang dikuasai oleh sebuah kekuasaan
asing.
Koloni adalah satu kawasan diluar wilayah negara asal atau induk. Tujuan
utama
kolonialisme adalah kepentingan ekonomi.Kebanyakan koloni yang yang
4
dijajah
adalah wilayah yang kaya akan bahan mentah, keperluan untuk mendapatkan
bahan
mentah adalah dampak dari terjadinya Revolusi Industri di Inggris.
Istilah
kolonialisme bermaksud memaksakan satu bentuk pemerintahan atas
sebuah
wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk mendapatkan
sebuah
wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai. Usaha untuk
mendapatkan
wilayah biasanya melalui penaklukan. Penaklukan atas sebuah wilayah
bisa
dilakukan secara damai atau paksaan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Pada mulanya mereka membeli barang dagangan dari penguasa lokal,
untuk
memastikan pasokan barang dapat berjalan lancar mereka kemudian mulai
campur tangan
dalam urusan pemerintahan penguasa setempat dan biasanya mereka
akan
berusaha menjadikan wilayah tersebut sebagai tanah jajahan mereka. Negara
yang
menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi
aspek
kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.
Sejarah
perkembangan kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari
Portugis
berlayar ke india pada tahun 1498. Di awali dengan pencarian jalan ke
Timur
untuk mencari sumber rempah-rempah perlombaan mencari tanah jajahan
dimulai.
Kuasa Barat Portugis dan Spanyol kemudian diikuti Inggris dan Belanda
berlomba-lomba
mencari daerah penghasil rempah-rempah dan berusaha
mengusainya.
Penguasaan wilayah yang awalnya untuk kepentingan ekonomi
akhirnya
beralih menjadi penguasaan atau penjajahan politik yaitu campur tangan
untuk
menyelesaikan pertikaian, perang saudara, dan sebagainya. Ini karena kuasa
kolonial
tersebut ingin menjaga kepentingan perdagangan mereka daripada
pergolakan
politik lokal yang bisa mengganggu kelancaran perdagangan mereka.
Kolonialisme
berkembang pesat setelah perang dunia I. Sejarah kolonialisme
Eropa
dibagi dalam tiga peringkat. Pertama dari abad 15 hingga Revolusi industri
(1763)
yang memperlihatkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan Portugis.
Kedua,
setelah Revolusi Industri hingga tahun 1870-an. Ketiga, dari tahun 1870-an
hingga
tahun 1914 ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak
pertikaian
kuasa-kuasa imperialis
5
B. Perdagangan Asia dan Munculnya Imperialisme dan Kolonialisme Barat
Di zaman
perekonomian Asia yang telah maju, perekonomian Eropa justru
masih
tertinggal jauh. Pusat perkembangan ekonomi dan politik dunia dalam abad
ke-14 s/d
abad ke-15 adalah dunia Islam, khususnya imperium Turki Usmani
(Ottoman)
yang telah menguasai wilayah-wilayah strategis yang semula dikuasai
oleh
Romawi-Byzantium. Penguasaan atas wilayah-wilayah itu sekaligus telah
menyekat
jalur perdagangan dari Timur ke Barat yang mengakibatkan barang-barang
dagangan
dari Timur seperti rempah-remapah menjadi langka dan harganya
melambung
tinggi.
Meskipun
harganya relatif tinggi ternyata minat masyarakat Eropa waktu itu
terhadap
komoditi itu tidak menurun, bahkan cenderung meningkat. Oleh karena itu
maka para
penguasa dan pengusaha atau pedagang Eropa berupaya mencari jalan
alternatif
ke daerah penghasil komoditi tersebut.
Meningkatnya
permintaan baik dari Eropa maupun dari tempat lainnya
seperti
India secara tidak lengsung telah mendorong para produsen di kepulauan
Nusantara,
khususnya kepulauan Maluku memperluas tanaman ekspornya, terutama
pala dan
cengkeh. Selain adanya perluasan seperti pala dan cengkeh, juga di
beberapa
pulau, seperti di Sumatera dikembangkan pula komoditi lain yang juga
sangat
diminati orang-orang Eropa, yaitu lada. Walaupun harganya hanya separuh
rempah-rempah,
namun waktu itu lada sudah termasuk komoditi ekspor yang penting
dari
wilayah Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Menurut beberapa sumber, tanaman
ini
mulanya merupakan barang dagangan dari Kerala, pantai Malabar di India barat
daya,
yang dikenal oleh orang-orang Arab dan Eropa sebagai “negeri lada”. Sejak
kapan
lada dibumidayakan oleh penduduk Sumatera tidak begitu jelas.
B.1. Emporium Malaka
Sejak
runtuhnya Sriwijaya, kota pelabuhan terbesar yang patut disebut sebuah
emporium
adalah Malaka. Kota pelabuhan yang sekaligus menyandang nama
kerajaan
itu muncul pada ke-15 M. Kemunculannya sekaligus menggeser kedudukan
Pasai
dalam dunia perdagangan internasional. Secara geografis letak Malaka cukup
6
strategis
dan lebih menguntungkan dibandingkan Pasai. Pendiri Malaka, yaitu
Parameswara
menyadari pentingnya jaminan keamanan bagi negerinya yang
kehidupan
ekonominya lebih banyak bertumpu pada perdagangan daripada pertanian.
Agar
kotanya tetap ramai, penguasa Malaka berusaha mengamankan jalur-jalur
perdagangannya
dari para bajak laut atau lanun yang berkeliaran di sekitar Selat
Malaka.
Di samping itu penguasa Malaka berupaya menjalin hubungan baik dengan
kerajaan-kerajaan
sekitarnya, terutama Majapahit (Jawa), Siam dan Cina.
Malaka
juga mengirimkan ekspedisi militernya ke negeri-negeri yang
dianggapnya
penting untuk dikuasai karena menghasilkan barang-barang yang sangat
dibutuhkan
Malaka. Misalnya Kampar di pantai timur Sumatera ditaklukannya
karena
daerah ini merupakan penghasil lada dan merupakan pintu keluarnya emas
dari
daerah pedalaman Minangkabau. Kemudian Siak juga ditaklukan dan
dikuasainya
karena menghasilkan emas.
Keberhasilan
Parameswara menjalankan kebijakan politiknya, ditambah
dengan
perbaikan sistem pergudangan dan perbengkelan kapal (doking), membuat
kota
Malaka berkembang menjadi sebuah emporium terbesar di Asia Tenggara.
Apalagi
setelah penguasa Malaka menjadi Islam pada tahun 1414, telah mendorong
semakin
banyak pedagang Islam dari Arab dan India yang nota bene menguasai jalur
perdagangan
dari Asia ke Timur Tengah, melakukan kegiatan bisnis-perdagangan di
kota ini.
Menurut
Tomé Pires, penulis Portugis, kebijakan yang ditempuh para raja
Malaka
adalah menumbuhkan sistem birokrasi yang dapat memenuhi tugasnya dalam
mengatur
perekonomian Malaka. Salah satu jabatan yang erat kaitannya dengan
perdagangan
di pelabuhan adalah Syahbandar. Di Malaka waktu itu ada empat orang
syahbandar
yang dipilih sendiri oleh para pedagang asing dari berbagai kelompok
bangsa
untuk mengurusi kepentingan niaga mereka. Pertama, syahbandar yang
mengurusi
para pedagang Gujarat; kedua, syahbandar yang mengurusi para pedagang
Keling,
Bengali, Pegu, dan penduduk Pasai; ketiga, syahbandar yang menjaga
kepentingan
para pedagang Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Kalimantan, dan
Filipina
(Sulu dan Mangindanau); dan keempat adalah syahbandar yang menjaga dan
7
mewakili
para pedagang Cina dan kepulauan Liu-Kiu. Kedudukan Malaka seperti
inilah
yang mendorong Portugis berusaha menguasainya.
Bangsa
Portugis telah mendengar informasi tentang kota Malaka dengan
segala
kekayaan dan kebesarannya itu dari pedagang-pedagang Asia. Atas dasar
informs
itu Raja Portugal mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan
kota
tersebut, menjalin hubungan persahabatan dengan penguasanya dan menetap di
sana
sebagai wakil raja Portugal. Awalnya Sequeira disambut dengan senang hati
oleh
Sultan Mahmud Syah (1488-1528). Sikap Sultan kemudian berubah setelah
komunitas
dagang Islam internasional yang ada di bandar itu meyakinkannya bahwa
Portugis
merupakan suatu ancaman berat baginya. Oleh karena itu Sultan berusaha
menangkap
Sequeira dan anak buahnya. Empat kapal Portugis yang sedang berlabuh
berusaha
dirusak oleh pihak Sultan, namun gagal karena para kaptennya telah
berhasil
membaya kapal-kapal itu berlayar ke laut lepas. Penyerangan terhadap
Portugis
juga terjadi di tempat lainnya di barat. Dengan adanya kejadian seperti itu
Portugis
yakin bahwa untuk menguasi perdagangan hanyalah dengan cara
penaklukan,
sekaligus mengokohkan eksistensinya dalam dunia perdagangan Asia.
Afonso d’Albuquerque,
panglima Portugis yang mendapat tugas untuk merebut
Malaka
dengan satu perhitungan jika Malaka dapat dikuasai maka seluruh
perdagangan
merica di Asia akan menjadi milik Portugis.
Sebelum
sampai ke Malaka, Portugis telah menguasai Hormuz dan Sokotra di
sekitar
Teluk Persia dan Goa di pantai barat India yang kemudian dijadikan
pangkalan
tetap Portugis. Pada bulan April 1511, Albuquerque berlayar dari Goa
menuju
Malaka dengan membawa armada Portugis yang berkekuatan 1200 orang
dan
delapan belas buah kapal perang. Perang terjadi secara sporadis sepanjang bulan
Juli dan
awal bulan Agustus, yang akhirnya dimenangkan oleh Portugis.
B.2. Awal Kolonialisme Bangsa Barat
Di satu
pihak jatuhnya Byzantium ke tangan Turki Usmani telah
menyebabkan
komoditi dari Asia Timur dan Asia Tenggara di Eropa langka dan
kalaupun
adany harganya sangat mahal. Namun di pihak lainnya peristiwa itu
berdampak
positif karena telah mendorong meningkatnya ilmu pengetahuan di dunia
8
Barat.
Hal ini karena banyak ahli budaya-teknologi dari Byzantium yang lari ke
Barat
berhasil menularkan pengetahuannya di sana. Di Portugal misalnya,
pengetahuan
geografis dan astronominya meningkat semakin baik, sehingga orangorang
Portugis
berhasil menjadi mualim-mualim kapal yang mahir dan tangguh.
Kepandaian
ini kemudian dipadukan dengan berkembangnya teknologi
perkapalannya
mulai dari penemuan sistem layar segitiga dengan temali-temali
persegi,
serta kontruksi kapal yang semakin baik sehingga kapal-kapal mereka lebih
mudah
digerakkan dan lebih layak dipakai untuk pelayaran samudra. Demikian pula
teknologi
persenjataan mereka berkembang sehingga mampu menciptakan meriammeriam
yang
dapat ditempatkan di atas kapal-kapal mereka. Kapal-kapal perangnya
lebih
menyerupai panggung meriam di lautan daripada istana terapung bagi para
pemanah
atau geladak balista (alat pelontar) seperti pada kapal-kapal Romawi
pada
masa
Julius Caesar dan Oktavianus Agustus. Penemuan-penemuan teknologi itulah
yang kemudian
mendorong mereka untuk mencari jalur baru ke India (dalam mitos
masyarakat
Eropa waktu itu, rempah-rempah berasal dari India, sehingga mereka
berlayar
ke timur termasuk ke benua Amerika, adalah untuk mencari India).
Namun
perlu dikemukakan di sini, bahwa Portugis berlayar ke timur bukan
semata-mata
untuk mencari rempah-rempah, tetapi juga untuk mencari emas dan
sekutu
untuk melawan Turki dalam arti melanjutkan “perang salib”. Pencarian emas
dan perak
kemudian menjadi penting karena kedua logam mulia itu dijadikan
semacam
indikator kesuksesan satu negara, seperti dikemukakan oleh Antonio Serra
bahwa
kekayaan itu tiada lain adalah emas dan perak. Politik ekonomi ini dikenal di
Eropa
sebagai ekonomi Merkantilis. Paham ini mulai berkembang sekitar tahun
1500-an
dan semakin berkembang setelah terbit tulisan-tulisan dari para pendukung
paham
ini, seperti Jean Colbert dari Perancis dan Thomas Mun dari Inggris.
Atas
dorongan Pangeran Henry ‘Si Mualim’, Portugis memulai usaha
pencarian
emas dan jalan untuk mengepung lawan yang beragama Islam dengan
menelusuri
pantai barat Afrika. Mereka berusaha mencari jalan menuju Asia (India)
guna
memotong jalur pelayaran pedagang Islam, sekaligus untuk memonopoli
perdagangan
komoditi tersebut.
9
Pada
tahun 1478, Bartolomeu Diaz sampai ke Tanjung Harapan di ujung
selatan
Benua Afrika. Kemudian pada tahun 1497 armada pimpinan Vasco da Gama
sampai ke
India. Pengalaman di India ini telah menyadarkan orang-orang Portugis
bahwa
barang-barang perdagangan mereka tidak dapat bersaing di pasaran India
yang
canggih dengan hasil-hasil yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia.
Oleh
karena itulah semboyan “God –Gold – Glory” bagi mereka menjadi relevan,
karena
tidak ada cara lain untuk menguasai perdagangan Asia selain melalui
peperangan
dan menjadikan daerah-daerah penghasil komoditi itu sebagai koloni.
B.3. Dampak dikuasainya Malaka oleh Portugis
Setelah
Portugis berhasil menguasai Malaka, mereka menemukan kenyataan
yang di
luar perkiraannya. Kota pelabuhan itu bagaikan ayam dalam dongeng “ayam
bertelor
emas” yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Melayu. Seekor ayam
yang
setiap hari bertelor satu butir telor emas, yang kemudian disembelih oleh
pemiliknya
karena tidak sabar menunggu dan ingin segera mendapatkan telor-telor
emas itu.
Ternyata dalam tubuh ayam itu tidak ada telor emas. Portugis menemukan
suatu
kenyataan bahwa Malaka bukanlah produsen dari semua komoditi ekspor
(khususnya
merica) yang dicari-cari oleh para pedagang Barat. Kebesaran Malaka
adalah
karena peranannya sebagai emporium, pelabuhan transit bagi para pedagang
Asia.
Dengan diterapkannya politik monopoli serta upaya kristenisasi oleh Portugis,
peranan
yang disebutkan terakhir justru terganggu. Para perdagangan Asia,
khususnya
pedagang Islam merasa tidak nyaman lagi berdagang di kota tersebut.
Umumnya
mereka berupaya menghindari kota emporium itu dan mencari jalan
alternatif
guna mencapai tempat-tempat atau pelabuhan-pelabuhan lain yang diduga
dapat
memenuhi kebutuhan dagangnya.
Jalur
perdagangan di Asia Tenggara pun berubah, tidak lagi melalui Malaka
tetapi
melalui pantai barat Sumatera, lalu masuk selat Sunda untuk selanjutnya
menelusuri
pantai utara Jawa menuju kepulauan Indonesia bagian Timur yang
menghasilkan
banyak rempah-rempah. Di jalur perdagangan baru itu umbuh pusatpusat
perdagangan
baru, seperti Aceh, Banten, Semarang, Jepara dan Surabaya.
10
Sementara
itu Malaka yang dihindari oleh para pegadang Islam kedudukannya
semakin
merosot dan tidak pernah meraih kembali kejayaan dan kebesarannya.
Portugis
sendiri akhirnya menyadari bahwa pentingnya Malaka adalah
peranannya
sebagai pelabuhan emporium, pelabuhan transito. Guna mempertahankan
fungsinya
itu, kapal-kapal Portugis belayar ke Maluku untuk mengambil komoditi
tersebut.
Pada waktu itu di Maluku ada dua kesultanan Islam yang besar dalam
kondisi
sedang menurun dalam kekuasaan politiknya dan saling bermusuhan satu
sama
lain, yaitu Ternate dan Tidore.
Selain ke
Maluku Portugis berusaha menjalin hubungan diplomatik dengan
Pajajaran,
satu kerajaan Hindu di Jawa Barat yang kedudukan politiknya juga sedang
menurun.
Namun kerjasama dengan kerajaan ini tidak sempat terwujud karena
Pajajaran
tenggelam oleh kekuatan Islam Demak - Banten.
Kenyataan
ini telah memaksa Portugis untuk meninggalkan politik anti
Islamnya
(Perang Salib), dan berusaha mencari mitra kerja atau sekutu dagang dari
kalangan
Islam. Sebab, (1) Portugis harus menerima kenyataan bahwa kerajaankerajaan
di
sekitarnya adalah Islam, dan (2) perdagangan Islam di Asia Tenggara
sampai
Timur Tengah cukup dominani.
C. Persaingan dan kemitraan
C.1. Portugis di Maluku
Setelah
Portugis menyadari bahwa penghasil rempah-rempaah bukanlah
Malaka
melainkan Maluku. Atas dasar kenyataan itu Portugis berlayar ke Maluku
dan
berupaya menanamkan pengaruhnya melalui persekutuan dengan Ternate. Atas
persetujuan
Sultan Ternate, pada tahun 1522 Portugis membangun sebuah benteng di
sana.
Pada awalnya persekutuan itu berjalan dengan baik. Hubungan itu mulai rusak
setelah
Portugis melakukan kristenisasi terhadap masyarakat Maluku, serta perilaku
orang-orang
Portugis sendiri dinilai tidak sopan. Akan tetapi karena kekuatan
kerajaan
Ternate ternyata tidak cukup kuat untuk mengusir orang-orang Portugis.
Akibatnya
yang terjadi menjadi kebalikannya, justru sultan Ternate, Tabariji
diturunkan
dari singgasananya oleh Portugis lalu dibuang ke Goa, India. Sekitar
11
empat
puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1575 giliran Portugis yang diusir
oleh
sultan Ternate, Baabullah (1570-1583). Dari Ternate orang-orang Portugis
pindah ke
Tidore dan membangun sebuah benteng di sana.
Meskipun
gerakan kristenisasi tidak lagi sepenuhnya dijalankan oleh
‘pemerintah’
Portugis, namun tidak berarti upaya kristenisasi sama sekali berhenti.
Karena
masih ada orang Eropa yang meneruskan kegiatan itu di kepulauan
Nusantara.
Orang itu adalah Santo Francis Xavier (1506-1552), orang Spanyol,
yang
bersama-sama dengan Santo Ignatius Loyola mendirikan Ordo Jesuit. Pada
tahun
1560-an di kepulauan Maluku diduga sudah ada sekitar 10.000 komunitas
Katholik
yang sebagian besar berdomisili di Ambon, dan pada tahun 1590-an
terdapat
sekitar 50.000 – 60.000 orang Katholik (Ricklefs, 2005). Menurut Ricklefs,
kondisi
ini telah memberi sumbangan yang besar pada rasa memiliki kepentingan
yang sama
dengan orang-orang Eropa, terutama di kalangan penduduk Ambon.
Perasaan
semacam itu tidak dialami oleh penduduk pribumi (Indonesia) di daerahdaerah
lainnya.
Upaya
kaum missionaris yang sungguh-sungguh ini terjadi justru pada waktu
kegiatan
penaklukan Portugis di kepulauan Indonesia telah terhenti. Pada waktu itu
kepentingan
utama Portugis telah bergeser dari Maluku ke perdagangan dengan
Jepang
yang dinilainya lebih menguntungkan. Setelah Portugis memperoleh Macao
di tahun
1557, perdagangan dengan Cina juga semakin terbuka. Akhirnya kegiatan
Portugis
yang luas mulai lebih dipusatkan pada perdagangan gula Brazil dan budakbudak
Afrika
daripada terhadap wilayah timur Asia, terutama setelah Portugis terusir
dari
Malaka tahun 1641 oleh kekuatan gabungan VOC dan Johor. Dengan demikian
kristenisasi
dengan segala pengaruhnya di kepulauan Indonesia bagian timur lebih
merupakan
hasil jerih payah seorang Jesuit daripada hasil jerih payah kerajaan
Portugal.
Selain
agama, Portugis meninggalkan beberapa pengaruh budaya, seperti
balada
keroncong yang romantis, dan kosa kata yang terserap ke dalam bahasa
Indonesia
seperti kata ‘pesta’, ‘sabun’, ‘sepatu’, ‘bendera’, ‘kemeja’, ‘’meja’,
‘minggu’
dll. Hal ini membuktikan bahwa di samping bahasa Melayu yang menjadi
12
lingua franca, bahasa Portugis banyak pula
dipergunakan di kepulauan Indonesia,
paling
tidak sampai akhir awal abad ke-19. Kini, di daerah kepulauan Maluku masih
banyak
nama keluarga yang berasal dari masa Portugis, seperti: da Costa, Dias,
de
Fretes, Gonsalves, Mendoza, da Silva, dan Rodrigues.
Perdagangan
Portugis pada dasarnya bersifat semi-feodal dan terikat oleh raja
Portugis
beserta politiknya. Perdagangan resmi Portugis dapat dikatakan sebagai
contoh
dari seorang raja Eropah yang berdagang. Karena itu banyak yang menilai
organisasi
perdagangannya kurang efisien. Para pejabatnya di Asia bukanlah
saudagar
melainkan hidalgo’s yang lebih menyukai perampokan daripada
perdagangan
resmi. Apalagi pada waktu itu bagi seorang prajurit, perampokan
merupakan
hak penakluk dari pihak yang menang perang, sehingga perampokan
dianggap
terhormat.
C.2. VOC sebagai Kekuatan Baru
Dibandingkan
dengan Belanda (Ekspedisi pertama Balanda di bawah
pimpinan Cornellis
de Houtman tiba di Banten tahun 1596) dan Inggris (ekspedisi
pertama
Inggris di bawah pimpinan Sir Francis Drake yang singgah di Ternate,
Sulawesi
dan Jawa diakhir tahun 1579) yang baru datang ke wilayah ini menjelang
akhir
abad ke-16, maka organisasi perdagangan Portugis memang kelihatan kuno dan
kurang
efisien. Organisasi dagang yang dibentuk para pedagang dan penguasa
Belanda,
yaitu Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) mempunyai tujuan
utama
yang jelas, yaitu dagang. Ketegasan itu antara lain tercermin dari khirarkhi
VOC itu
sendiri. Jabatan “Eerste Koopman” misalnya, dalam hirarkhi VOC
merupakan
jabatan penting dan strategis. Pada zaman kejayaannya, hampir semua
mantan
pejabat “Eerste Koopman” menjadi gubernur jenderal.
Dalam
menanamkan pengaruhnya di Nusantara, baik Portugis maupun
Belanda
banyak mempergunakan pola-pola konflik setempat. Disamping itu mereka
juga
membawa konflik-konflik mereka di Eropa ke wilayah ini, yang kemudian juga
dipergunakan
oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sejak berdirinya, VOC sudah
mempersiapkan
diri untuk peperangan, terutama melawan musuh-musuhnya di
13
Eropa.
Pertama melawan Portugis dan Spanyol, setelah itu EIC (Inggris).
Permusuhan
antar kekuatan Barat ini tidak saja karena pada dasarnya telah
bermusuhan
di Eropa, melainkan juga karena persaingan dagang di kepulauan
Indonesia
dan Semenanjung Melayu, di mana tiap-tiap pihak ingin memperoleh
monopoli
atas perdagangan tersebut.
C.3. Aceh dan kekuatan Barat
Seperti
telah disebutkan bahwa penguasaan kota Malaka oleh Portugis telah
mengacaukan
struktur perdagangan di Asia Tenggara, khususnya kepulauan
Indonesia
dan Semenanjung Melayu. Banyak pedagang Asia yang mengindari kota
Malaka
yang telah dimonopoli Portugis yang secara tidak langsung membuat
peranan
Malaka sebagai pelabuhan transit semakin merosot. Sebaliknya di beberapa
daerah,
terutama yang di jalur perdagangan baru, tumbuh dan berkembang kota-kota
dagang
baru, yang beberapa di antaranya berkembang menjadi pusat kekuatan politik
baru di
wilayah ini.
Aceh
misalnya, pada tahun 1511 di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat
masih
merupakan satu pelabuhan kecil yang berada di bawah kekuasaan Pidie.
Sewaktu
Malaka direbut Portugis, sebagian besar komunitas dagang Asia berpindah
ke Aceh.
Penghidupan utama dari penduduknya adalah menangkap ikan (nelayan),
dengan
pekerjaan sampingan adalah merampok di laut, termasuk merampok kapalkapal
Portugis.
Dengan kekuatan sekitar 30 kapal (lankhara), Aceh di bawah
Sultannya
yang pertama, Ali Mughayat (?1514-1530) berhasil menyergap kapalkapal
Portugis
dan memperoleh meriam-meriam dari hasil rampokan tersebut. Dalam
tahun
1530 diberitakan bahwa jumlah meriam yang dimiliki Aceh lebih banyak
daripada
yang meriam Portugis yang ada di benteng Malaka.
Dengan
meningkatnya kekuatan dan persenjataan itu, Aceh menaklukan Pidie
yang
sebelumnya merupakan tuannya. Setelah itu Aceh memperluas hegemoninya ke
selatan,
ke Deli dan Sumatera Barat. Pada tahun 1524 Pedir dan Pasai berhasil
dikuasai
Aceh, setelah pasukannya berhasil mengusir garnisun Portugis yang
ditempatkan
di daerah itu. Kemenangan Aceh atas Portugis ini dilenggkapi lagi
dengan
keberhasilnnya mengalahkan armada Portugis di Aru. Kemenangan demi
14
kemenangan
itu telah memposisikan Aceh, tidak saja berhadapan dengan Portugis
melainkan
juga dengan Johor. Untuk sementara waktu Johor besama-sama dengan
Indrapura
mampu manahan ekspansi Aceh. Johor berhasil memukul mundur pasukan
Aceh dari
Aru dan menguasinya sekitar empat puluh tahun berikutnya. Satu hal yang
perlu
dicatat, daerah-daerah yang ditaklukan Aceh, umumnya merupakan daerah
penghasil
merica, emas, lada, dan produksi lainnya yang laris di pasaran dunia waktu
itu.
Kesultanan
Johor adalah adalah pusat kekuatan politik baru dinasti Melayu
setelah
Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kesultanan itu berhasil mempertahankan
eksistensinya
dan mampu mempertahankan perdagangan internasionalnya. Dalam
perkembangannya
nanti, Johor bersekutu dengan VOC, terutama dalam menghadapi
tekanan
dari Kesultanan Aceh yang bersekutu dengan Portugis yang bercokol di
Malaka.
Sampai pertengahan abad ke-17 perdagangan di Selat Malaka dimainkan
oleh tiga
kekuatan, yaitu Portugis, Aceh, dan Johor. Namun Aceh berkali-kali
menyerang
Johor, terutama untuk merebut Aru, seperti pada tahun 1564 dan 1565.
Pada
tahun-tahun itu,Aceh di bawah Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-
1571)
menyerang dan merampok Johor serta menawan rajanya Sultan Alaudin
Riayat
Syah I dibawa ke Aceh dan kemudian dibunuh. Kemudian pada tahun1613,
kembali
armada Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menyerang Johor
dan
menangkap rajanya Sultan Alaudin Riayat Syah II (1597-1613) dan keluarganya,
serta
sekelompok pedagang VOC dan membakar benteng VOC di kota tersebut
Sultan
Iskandar Muda tercatat sebagai penguasa terbesar di antara penguasapenguasa
Aceh.
Pada awal abad ke-17 ia berhasil membawa Aceh menjadi kerajaan
maritim
terbesar di wilayah Nusantara bagian barat. Kekuatan armada perangnya,
serta
armada dagangnya menjadikan mata uang mas Aceh (dirham) disukai dan
diterima
oleh komunitas pedagang Asia sebagai salah satu alat pembayaran yang sah
dalam
transaksi perdagangan di samping Real Spanyol, Rijkasdaalder Belanda
atau
Kepeng Cina.
Ofensif
Aceh terhadap Malaka-Portugis dilakukan berkali-kali. Pada tahun
1614
armada Aceh berhasil mengalahkan armada Portugis di Bintan. Kemudian pada
15
tahun
1617 Aceh merebut Pahang dan menawan rajanya Sultan Ahmad Syah. Setelah
itu pada
tahun 1620 giliran Kedah ditaklukannya dan tiga tahun kemudian, Aceh
kembali
merampok Johor. Namun baik Johor maupun Portugis tidak pernah
menyerang
balik ke Aceh. Ofensif militer Aceh baru terhenti setelah pada tahun 1629
armada
lautnya menderita kekalahan besar di muka pelabuhan Malaka Portugis.
Menurut
laporan Portugis, Aceh kehilangan seluruh kapal perangnya berikut 19.000
prajuritnya
(hilang dan tewas).
Setelah
kekalahan itu, Iskandar Muda tidak pernah menyerang Malaka
Portugis
lagi Dua kali ia mengirim ekspedisi lautnya, namun kedua-duanya hanyalah
untuk
menumpas pemberontakan di Pahang. Meskipun Iskandar Muda berhasil
menjadikan
Aceh negara terkuat di bagaian utara pulau Sumatera, namun dia tidak
pernah
mengirimkan ekspedisi untuk menaklukan Lampung, Sumatera bagian
selatan,
yang merupakan daerah penghasil lada. Waktu itu Sumatera bagian selatan
berada di
bawah pengaruh Kesultanan Banten.
Di pulau
Sumatera Aceh secara terus menerus menentang kekuasaan Portugis
dan
Belanda. Oleh karena itu kesultanan itu dilihat oleh Portugis sebagai kekuatan
Islam
yang menentang kehadirannya. Satu fakta yang menunjang anggapan itu
karena
memang Aceh sering mengibarkan bendera Islam dalam peperangannya
melawan
Portugis dan VOC. Meskipun demikian tidak selamanya Aceh bertentangan
dengan
Portugis. Kadang-kadang Aceh juga mengadakan persekutuan dengan
Portugis
dalam menghadapi kesultanan Johor (yang Islam) atau persekutuan Johor-
VOC. Pada
dasarnya konflik maupun persekutuan seperti di atas adalah soal yang
lazim,
karena kepentingan-kepentingan tertentu, tidak semata-mata karena alasan
politis
melainkan juga ekonomi.
Kebesaran
kesultanan Aceh tidak hanya terletak pada kekuatan militernya
semata,
melainkan karena kemampuannya untuk menjalin hubungan diplomatik
dengan
dunia Asia Barat, terutama Turki yang disebut oleh masyarakat Aceh sebagai
Raja Rum. Dengan jatuhnya Aden ke tangan Turki Usmani di tahun
1538,
penghidupan
perdagangan merica ke Timur Tengah melalui Laut Merah yang sempat
terhenti
oleh kehadiran kekuatan maritim Portugis di Lautan Hindia, kembali
16
berkembang.
Dari beberapa negara Nusantara yang, kemungkinan besar hanya Aceh
yang
mempunyai hubungan internasional. Duta-duta Aceh tidak hanya sampai ke
Istambul,
Turki, tetapi juga mengunjungi raja-raja Eropa seperti Ratu Elizabeth dari
Inggris,
bahkan juga Pangeran Maurice dari Belanda. Di Asia sendiri duta Aceh
antara
lain berkunjung ke Moghul, India. Dari misi-misi diplomatik itu, hubungan
dengan
Turki yang paling membawa hasil yang tetap dan besar. Turki melihat
kehadiran
Aceh sebagai suatu kesempatan untuk memerangi Portugis-Spanyol di
wilayah
Timur atau dari belakang. Sebagai bukti dari perhatian itu, pada tahun 1567
Turki
mengirimkan 500 orang pelatih artileri (meriam) ke Aceh beserta sejumlah
meriamnya,
antara lain meriam yang diberi nama “Lada sacupak” yang ukurannya
sangat
besar dan dianggap sebagai pusaka penting waktu itu. Di samping itu orangorang
Turki
mengajarkan cara membuat meriam kepada orang-orang Aceh. Di duga
bantuan-bantuan
militer itu dibayar dengan hasil perdagangan merica atau lada yang
merupakan
hasil ekspor Aceh yang utama dan menguntungkan.
Ada satu
faktor yang membuat Aceh tidak mampu mengembangkan dirinya
menjadi
kerajaan besar di Nusantara, yaitu intrik-intrik di dalam istananya sendiri,
baik di
kalangan elit-elit pusat maupun di daerah. Setelah Iskandar Muda meninggal,
peranan
Aceh dalam politik maupun perdagangan terus merosot, sehingga memberi
kesempatan
kepada Johor untuk membenahi dirinya. Johor kemudian berhasil
menegakkan
kembali pengaruhnya di semenanjung Malaya dan kawasan selat bagian
selatan.
C.4. Raja-raja Jawa dan Kekuatan Barat
Jatuhnya
kota Malaka ke tangan Portugis, menyebabkan kota-kota lama di
pesisir utara
Jawa seperti Sunda Kalapa, Cirebon, Jepara, Pati, Kudus, Tuban, Gresik
dan
Surabaya, ramai dikunjungi para pedagang manca negara. Bahkan di beberapa
daerah
tumbuh pula kota dagang baru, antara lain Banten.
Para
penguasa di Jawa melihat Portugis sebagai saingan dan ganjalan dalam
perdagangan
mereka. Jepara misalnya, melihat Portugis sebagai saingan utama dalam
perdagangan
lada yang kedua-duanya mengambil barang dagangan itu dari Maluku.
Kemudian
Demak sebagai pengekspor beras ke Malaka, menjadi rugi setelah kota
17
tersebut
jatuh ke tangan Portugis. Faktor-faktor inilah dan juga isu-isu perang agama
yang
mendorong Demak, Jepara dan Kudus bersatu untuk menyerang Malaka.
Ekspedisi
penyerangan dilakukan pada tahun 1513 di bawah Pati Unus. Konon
ekspedisi
ini terdiri dari 100 buah kapal perang serta membawa 5000 prajurit
gabungan
dari Jepara dan Palembang.. Namun ekspedisi itu dapat dikalahkan oleh
Portugis.
Kemudian pada tahun 1551 Jepara kembali mengirimkan ekspedisinya
membantu
Johor untuk menyerang Malaka Portugis yang juga berakhir dengan
kegagalan.
Pada tahun 1574 Jepara sekali lagi mengirimkan ekspedisinya
mengepunga
Malaka Portugis selama tiga bula. Namun juga tidak berhasil
melumpuhkan
kekuatan Portugis di kota pelabuhan itu.
Kegagalan
kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara untuk merebut Malaka pada
dasarnya
karena kekuatan Islam di kepulauan Nusantara tidak mau bersatu melawan
Portugis
maupun Belanda (VOC). Bahkan di antara mereka juga saling mencurigai.
Malaka
sendiri akhirnya jatuh oleh serangan gabungan antara Johor-VOC.
Eksistensi
kerajaan-kerajaan maritim Jawa dengan kekecualian Banten, tidak
bertahan
lama. Kebesaran mereka sebagai kekuatan maritim terus merosot bukan
karena
dikalahkan oleh kekuatan Portugis atau pun VOC, melainkan oleh kekuatan
baru yang
muncul di pedalaman Jawa, yaitu Mataram. Kerajaan ini yang berdiri
sejak
tahun 1575 terus menerus melakukan ofensif terhadap kerajaan-kerajaan
maritim,
khususnya di pantai utara Jawa, bahkan sampai ke Batavia. Bayangan
kejatuhan
Majapahit yang menghantui para penguasa di Mataram membuat mereka
berupaya
mematikan sumber-sumber pendukung politik dan ekonomi kerajaankerajaan
tersebut,
yang secara tidak langsung mematikan perdagangan laut mereka.
Kedatangan
pedagang baru, termasuk VOC dan EIC (Inggris) seringkali
mendatangkan
harapan-harapan baru bagi raja-raja di Nusantara. Demikian pula
sewaktu
Belanda dan Inggris datang di akhir abad ke-16 disambut dengan baik.
Banten
misalnya mengijinkan VOC dan EIC membuka kantor dagangnya di kota
pelabuhannya.
Demikian pula Pangeran Jayakarta mengundang masuk VOC untuk
membuka
kantor dagangnya di kotanya. Namun politik monopoli yang
dikembangkan
VOC membuat penguasa Jayakarta merasa dirugikan. Lalu Pangeran
18
Jayakarta
bersekutu dengan EIC yang juga merasa dirugikan oleh VOC, untuk
bersama-sama
mengusir VOC. Di saat-saat kritis bagi kekuatan VOC di Jayakarta
tertolong
oleh tindakan raja Banten yang curiga atas tindakan Pangeran Jayakarta.
Raja
Banten menilai tindakan Pangeran Jayakarta membahayakan kedudukan
Banten.
Oleh karena itu Banten menangkapnya dan mengusir EIC dari Jayakarta.
Dalam
saat kekuatan Jayakarta kosong, armada VOC yang didatangkan dari Maluku
datang
menyerang Jayakarta. Kota itupun jatuh ke tangan VOC dan diubah namanya
menjadi
Batavia.
Setelah
berhasil menguasai Batavia, J.P. Coen memindahkan kantor pusat
dagang
VOC dari Ambon ke Batavia. Namun untuk menguasai seluruh perdagangan
di
Nusantara, VOC harus menunggu waktu yang relatif lama. Di sebelah barat,
Banten
tampil sebagai salah satu kekuatan maritim di Jawa sekaligus sebagai saingan
berat
dalam perdagangan yang terus menerus menentang VOC seperti halnya Aceh
terhadap
Malaka-Portugis. Sementara tantangan dari kekuatan maritim di sebelah
timur
seperti, Surabaya, Pacitan, Pasuruan, Kudus, dan Demak relatif tidak ada
karena
kerajaan-kerajaan tersebut sedang menghadapi kekuatan Mataram.
C.4.1. Runtuhnya Mataram
Masa
kejayaan Mataram terjadi pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-
1646).
Pada masa itu Mataram dua kali menyerang Batavia, yatu: pada tahun 1628
dan tahun
1629. Atas kegagalan itu Sultan Agung telah menghukum mati para
panglimanya.
Sejak
kegagalannya itu, Mataram mencoba mencari sekutu dengan mendekati
Portugis
dan India. Namun upaya itu dihentikan karena menurut penilaian Sultan
Agung,
kekuatan Portugis tidak akan mampu mengalahkan VOC. Setelah itu
Mataram
berbalik melakukan hubungan baik dengan VOC. Bagi VOC sendiri,
berhubungan
baik dengan Mataram jauh lebih menguntungkan daripada terus-terusan
berperang.
VOC memilih mengirimkan upeti ke istana Mataram sebagai tanda
mengakui
kebesaran Mataram di bawah Sultan Agung. Imbalannya armada Mataram
menghentikan
serangan-serangannya terhadap kapal-kapal dagang VOC.
19
Setelah
Sultan Agung wafat, Mataram dikuasai oleh penguasa-penguasa yang
lemah,
bahkan kemudian sangat tergantung kepada VOC. Diawali oleh Amangkurat
I dan
Amangkurat II yang meminta bantuan VOC untuk menumpas perlawanan
Trunojoyo.
Ketergantungan pun semakin menjadi-jadi setelah kerajaan ini didera
oleh
intrik-intrik perpecahan di dalam istana serta pemberontakan dari
pangeranpangeran
di
negara-negara bawahannya. Pada tahun 1704 misalnya, VOC membantu
Pangeran
Puger yang berselisih dengan raja Mataram Sunan Amangkurat III (1703-
1708)
yang merupakan keponakannya sendiri. VOC membantu Puger karena jauh
lebih
menguntungkan daripada Amangkurat III yang politiknya mulai menjauhi VOC
bahkan
disebut-sebut ikut melindungi pemberontak Untung Surapati. Pasukan
gabungan
VOC dengan Puger akhirnya berhasil memenangkan peperangan.
Amangkuart
III ditangkap dan dibuang ke Sri Langka.
Sebagai
imbalan atas bantuannya, Puger yang kemudian bergelar Susuhunan
Paku
Buwono I (1704-1719) memberikan beberapa konsesi-konsesi seperti : (1)
mengakui
batas-batas Batavia, termasuk Priangan yang diajukan VOC, (2)
menyetujui
bahwa Cirebon merupakan daerah perwalian VOC, (3) mengakui
kekuasaan
VOC atas Semarang, (4) memberikan hak membangun benteng di mana
saja di
Jawa, dan (5) memberikan hak monopili atas perdagangan candu dan tekstil.
Pertentangan
antara Pangeran Puger dan Amangkurat III terbukti bukanlah
intrik-intrik
terakhir yang terjadi di istana Mataram. Pertentangan di kalangan istana
kembali
mengguncang istana Mataram sejak tahun 1740-an sampai tahun 1750-an,
terutama
antara pihak Paku Buwono II, Pangeran Mas Said, dan Pangeran
Mangkubumi.
Akhirnya berdasarkan perjanjian Gianti (13 Februari 1755) Mataram
dipecah
menjadi dua, yaitu Surakarta di bawah kekuasaan Paku Buwono dan
Jogyakarta
di bawah kekuasaan Mangkubumi yang kemudian menggunakan gelar
Sultan
Hamangkubuwono. Beberapa tahun kemudian sebagian dari Surakarta
dipecah
menjadi Mangkunegaran. Demikian juga sebagaian Jogyakarta menjadi
wilayah
Pakualaman.
20
C.4.2. Runtuhnya Banten
Di ujung
barat Jawa, kerajaan Banten pada dasarnya kekuasaannya jauh lebih
kecil
dibandingkan Mataram. Namun kekuatan armada dagangnya jauh lebih kuat
dibandingkan
Mataram. Pada masa Sultan Ageng (1651-1683) yang dikenal dengan
sebutan
Sultan Tirtayasa, Banten berhasil membangun armada dagang dengan
menggunakan
model Eropa. Kapal-kapalnya yang menggunakan surat jalannya
melayari
jalur-jalur perdagangan Nusantara. Bahkan dengan menjalin hubungan baik
dengan
Inggris, Denmark dan Cina, Banten dapat berdagang dengan Persia, India,
Siam,
Vitenam, Cina, Filipina, dan Jepang. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa
sampai
menjelang akhir abad ke-17, Banten masih mampu melakukan perdagangan
internasional
jarak jauh, sekaligus mematahkan ambisi VOC yang ingin memonopoli
perdagangan
lada. Seperti halnya Mataram, kerajaan Banten mengalami kemunduran
karena
didera konflik dalam negeri, yang kemudian mengundang hadirnya VOC.
Putera
Mahkota yang baru naik tahta yang kemudian bergelar Sultan Haji
(1682-1687)
ternyata memiliki kebijakan politik yang tidak sejalan dengan ayahnya.
Jika
ayahnya sangat anti VOC, sebaliknya ia ingin menjalin hubungan dengan kongsi
dagang
Belanda itu. Otomatis ayahnya dan para elit politik Muslim militan lainnya
menentang
keras kebijakan tersebut. Pertentangan ini akhirnya meledak menjadi
konflik
terbuka yang disertai tindakan kekerasan. Pada tahun 1680. Ageng Tirtayasa,
yang
masih diakui oleh sebagian masyarakat Banten sebagai sultan, mengumumkan
perang
terhadap VOC yang telah menganiaya para pedagang Banten. Sultan Haji
yang
kedudukannya terjepit karena dijauhi para elit politik dan elit agama Islam,
akhirnya
menerima semua prasyarat yang diajukan VOC sebelum membantunya.
Tuntutan
VOC itu antara lain:
(1) semua
budak-budak yang lari dari Batavia ke Banten harus dikembalikan
walaupun
sudah menjadi Islam,
(2) Semua
para perampok yang mengacaukan Batavia harus dihukum dan
VOC
diberi ganti rugi,
21
(3)
Banten harus menarik kembali dukungannya terhadap para pemberontak
Mataram yang
melawan VOC, dan
(4)
Banten tidak boleh lagi melakukan hubungan dagang dengan para
pedagang
lain, terutama pedagang Eropa, kecuali dengan VOC.
Pada
bulan Maret 1682 sebuah armada dibawah pimpinan François Tack
dan Isaac
de Saint-Martin berlayar menuju Banten. Pada waktu itu kekuatan Sultan
Haji
dalam keadaan kritis, terkepung oleh kekuatan ayahnya. Datangnya bantuan itu
menyelamatkannya
dan kemudian dengan bantuan kekuatan VOC Sultan Haji
berbalik
mengusir kekuatan ayahnya ke daerah pedalaman. Usia yang cukup tua
rupanya
tidak cukup mendukung gerakan Sultan Tirtayasa. Akhirnya pada bulan
Maret
1683 dia bersama Syaikh Yusuf ulama asal Makasar tertangkap. Sultan
Tirtayasa
dibawa ke Batavia, sementara Syaikh Yusuf dibuang ke Tanjung Harapan,
Afrika.
Tahun 1695 Sultan Tirtayasa meninggal dalam masa tahanannya.
Kemenangan
Sultan Haji dengan bantuan VOC ini sekaligus mengakhiri masa
kejayaan
dan kemerdekaan Banten.
Meskipun
Sultan Haji telah menerima semua prasyarat VOC, namun para
pendukung
Sultan Tirtayasa masih terus melakukan perlawanan, antara lain dibawah
pimpinan
Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang (pewaris tahta Banten yang sempat
dibuang
VOC). Serangan-serangannya terhadap kepentingan VOC secara sporadis
sangat
menyulitkan VOC seperti terjadi di Selat Sunda, sekitar Bandung, Bogor
(Buitenzorg),
dan akhirnya melibatkan diri dalam pemberontakan di Mataram.
Setelah
itu dia menghilang beserta pengikutnya.
Dengan
takluknya Mataram dan Banten, perdagangan di pulau Jawa praktis
didominasi
oleh VOC, terutama yang berkaitan dengan perdagangan internasional.
C.5. Supermasi VOC di Kep. Indonesia bagian Timur
Dalam
menghadapi para penguasa-penguasa di kepulauan Indonesia bagian
timur,
VOC menjalankan politik dan taktik yang relatif sama dengan yang mereka
praktikan
di Jawa. Di kepulauan Maluku misalnya, VOC berusaha melumpuhkan
perlawanan
kaum Muslim Hitu di bawah pimpinan Kakiali yang bergelar Kapitein
22
Hitu (semula yang mendapat gelar ini adalah ayahnya yang
pro VOC) dengan
berupaya
mendekati raja Ternate.
VOC
menyatakan bersedia mengakui kedaulatan Ternate atas Seram dan Hitu
serta
menggaji raja Ternate sebesar 4.000 Real Spanyol setahun. Sebagai
imbalannya,
Ternate harus menghentikan semua penyelundupan perdagangan
cengkeh
dan diserahkan kepada VOC. Perjanjian ini menjadi tidak efektif karena
Kakiali
sebagai kapitein Hitu tidak bersedia mengikuti perjanjian itu. Namun ada
satu hal
yang menguntungkan VOC, yaitu Malaka telah berhasil mereka kuasai
(1641)
sehingga kekuatan lautnya bisa dipusatkan untuk menumpas perlawanan
Kakiali
dan kawan-kawannya. Akhirnya VOC berhasil membunuh Kakiali setelah
terlebih
dahulu berhasil membujuk seorang kebangsaan Spanyol yang menjadi
pengikut
Kakiali. Setelah Kakiali dibunuh, benteng pertahanan kaum Muslim Hitu
berhasil
direbut. Meskipun demikian orang-orang Hitu terus melakukan perlawanan
secara
sporadis dan berkali-kali membentuk komplotan anti VOC.
Kesempatan
VOC untuk menguasai perdagangan di Maluku pun semakin
terbuka,
sewaktu raja Ternate Mandarsyah dikudeta oleh kalangan istana dan
melarikan
diri ke benteng VOC untuk minta bantuan. VOC mengabulkannya dengan
menyodorkan
berbagai persyaratan yang sangat menguntungkan VOC, antara lain
mengenai
monopili perdagangan cengkeh. Setelah itu sejak tahun 1652 sampai 1658
terjadi
peperangan di sekitar Hoamoal yang berakhir dengan kemenangan VOC.
Penduduk
Hoamoal yang tersisa yang masih anti VOC dibuang ke Ambon dan
semua
tanaman di daerah itu dimusnahkan. Hegemoni VOC di Maluku semakin
lengkap
setelah tahun 1663, Spanyol menyerahkan sisa-sisa pos mereka yang berada
di
Ternate dan Tidore. Kemudian Spanyol menarik semua kekuatannya ke Filipina.
Setelah
Ternate dapat diatasi, untuk sementara waktu Maluku dianggap
‘aman’
oleh VOC, sehingga VOC mempunyai cukup waktu untuk memusatkan
perhatiannya
ke Makasar (Gowa-Tallo). Kerajaan ini menjadi satu-satunya kekuatan
maritim
di timur yang menjadi saingan VOC. Makasar dinilai oleh VOC menjadi
pusat
perdagangan rempah-rempah ‘gelap’ yang membahayakan. Pihak Belanda
23
masih
melihat pedagang-pedagang Portugis masih aktif di sana sejak mereka
kehilangan
Malaka.
Namun
untuk menundukkan Gowa bukan masalah kecil. Seperti juga di
daerah-daerah
lain, VOC baru mampu menundukkan lawannya, jika ada suatu
kelompok
berpengaruh di kerajaan tersebut yang mau bersekutu dengan pihaknya.
Akhirnya
VOC dapat menjalin hubungan dengan seorang pangeran Bugis, La
Tenriatta
to Unru’ (1634-1696), yang terkenal dengan nama Arung Palaka.
Penguasaan
Gowa atas kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan lainnya memang
masih
memberikan otonomi yang cukup luas bagi penguasa setempat. Namun
bagimanapun
tindakan penguasa Gowa atas mereka tetap menimbulkan rasa benci.
Pada
tahun 1660 sekitar 10.000 orang Bugis dari Bone (termasuk Arung Palaka)
pernah
melakukan pemberontakan, namun gagal. Dari sekian orang yang berhasil
lolos,
lalu pergi ke pulau Butung meminta bantuan VOC. Kesempatan ini
dipergunakan
dengan baik oleh VOC. Pada tahun 1667 kekuatan gabungana antara
VOC dan
Bone berhasil mengalahkan Makasar. Sultan Hasanuddin sebagai Sultan
Makasar
terpaksa harus menandatangani perjanjian Bongaya (18 November 1667)
yang
sangat merugikan, terutama bagi perkembangan ekonomi masyarakat di
Makasar
dan Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin mencoba melawan kembali mulai
bulan
April 1668 sampai Juni 1669. Namun kekuatan Makasar kembali mengalami
kekalahan
yang lebih menentukan, sehingga Makasar benar-benar harus
melaksanakan
perjanjian Bongaya.
Setelah
Makasar runtuh, secara teori tidak ada lagi kekuatan maritim di
kepulauan
Nusantara yang mampu mangadakan perlawanan terhadap VOC. Akan
tetapi
dalam kenyataannya tidak demikian. Sultan Tidore, Jamaludin yang naik tahta
tahun
1757, mulai menunjukkan perlawanan. Ia tidak puas dengan perjanian yang
telah
disepakati penguasa Tidore sebelumnya, yang dinilai sangat memberatkan
masyarakat
dan pemerintahan Tidore. Ia menolak membayar utang dan pajak-pajak
tertentu.
Alasannya penghasilan Tidore sendiri menurun terutama karena gangguan
para
bajak laut. Sultan atas desakan putranya Kaicil Syaifudin (lebih dikenal
dengan
sebutan Kaicil
Nuku) menolak meratifikasi perjanjian yang memberatkan Tidore,
24
terutama
bagian yang mengharuskan menyerahkan wilayah Seram ke pihak VOC.
Akibat
pembangkangannya itu pada tahun 1779 ia ditangkap dan dibuang ke Sailan.
C.6. Runtuhnya VOC dan Perlawanan ‘Prins Rebel’ Nuku.
Pada
dasarnya, sejak tahun 1760-an masa kejayaan VOC sebagai kongsi
dagang
dunia sudah mulai meredup. Keterlibatannya dalam berbagai konflik lokal
dan
penguasaan teritorial yang semakin luas, membuat keuntungan dagangnya
terkuras.
Kondisi ini diperparah oleh korupsi yang merajalela di kalangan para
pejabat
VOC, sehingga sejak pertengahan abad ke-18 VOC tidak lagi mengirimkan
keuntungan
ke negeri induknya, tetapi sebaliknya, justru mengutang. Akhirnya
pemerintah
Belanda mengambil alih semua utang-piutang VOC. Namun sebelum
raja
Belanda bertindak, pada bulan Desember 1794-Januari 1795 Perancis menyerbu
Belanda
dan memaksa raja Oranje lari ke Inggris.
Sejak
tahun 1796 nama VOC sudah tidak ada lagi di Eropa. Namun di Hindia
Timur
nama itu diputuskan oleh penguasa baru Belanda untuk tetap dipakai sampai
dengan
berakhirnya oktroi VOC sampai bulan Desember 1799. Untuk mengawasi
kegiatan
di daerah koloni seperti Hindia Timur, kemudian dibentuk Kementrian
Perdagangan
Jajahan yang kemudian berubah menjadi Kementrian Urusan Jajahan
(Ministerie
van Koloniën).
Dalam ‘masa
transisi’ ini, barangkali satu-satunya kerajaan di Nusantara yang
mampu
memanfaatkannya adalah Nuku dari Tidore. Sebenarnya perlawanannya
terhadap
VOC telah diperlihatkan sejak pertengahan tahun 1798. Pada bulan
Desember
1798 benteng Teluko, Ternate direbut oleh Nuku. Akan tetapi ia terpaksa
menahan
kemarahannya terhadap VOC karena ayahnya menasehati agar dia tidak
mengangkat
senjata, sebelum berhasil melakukan reorganisasi pemerintahan. Ia pun
terpaksa
menahan kegeramannya melihat ayahnya dihukum dan dibuang ke Sailan
pada
tahun 1799.
Sikap
Nuku berubah setelah VOC secara sewenang-wenang mengangkat
Patra
Alam sebagai Sultan Tidore yang baru, yang sekaligus telah melanggar tradisi
dan hukum
adat setempat. Patra Alam bukan keturunan Sultan Jamaludin, sultan
25
Tidore
yang sah; namun dikenal sangat setia kepada VOC. Secara hukum tradisi dan
hukum
adat, Kaicil Nuku lah yang berhak menjadi Sultan Tidore.
Pihak VOC
awalnya menilai akan mudah memadamkan perlawanan Nuku.
Ternyata
Nuku yang digelari nama Prins Rebel alias Pengeran Pemberontak sangat
cerdik,
baik dalam siasat perang maupun diplomasi. Ia dapat memanfaatkan
kekurangan
yang ada pada sistem pemerintahan VOC di kepulauan Maluku yang
terdiri
dari tiga gubernuran yang masing-masing berpusat di Ternate, Ambon dan
Banda. Ia
mampu pula mengadu domba para pejabat VOC. Sebagai contoh Gubernur
Ambon,
Bernardus van Pleuren tidak pernah memberi otorisasi atau izin kepada
Gubernur
Ternate CarnabÄ› untuk memasuki wilayah Ambon guna mengejar atau
memerangi Nuku
di Seram. Bahkan terjadi sesuatu yang aneh, sewaktu CarnabÄ› dan
Patra
Alam giat memerangi Nuku, justru van Pleuren mengirim tekstil dan beras
serta
sebentuk cincin bertatahan batu Sulaiman kepada musuh besar Kompeni itu.
Selain
memecah kekuatan VOC, Nuku juga berhasil menjalin hubungan baik
dengaan
EIC, saingan dagang VOC dari Eropa yang masih berdiri tegak di wilayah
India
sampai Asia Tenggara.
Berkali-kali armada militer CarnabÄ› terkecoh oleh laporan-laporan palsu
yang
sengaja disebar luaskan oleh Nuku. Sebaliknya, beberapa wilayah di Maluku
Utara
yang semula berada di bawah pengaruh VOC, satu persatu dapat direbut oleh
Nuku dan
menyatakan setia kepadanya.
Seperti
biasa VOC selalu berusaha mencari orang-orang dari pihak lawan
yang
dapat dibelinya, agar menjadi kaki tangannya. Upaya VOC itu memang
berhasil.
Salah seorang saudara kandung Nuku yaitu Kaicil Hasan, berhasil
dibujuknya
untuk mengkhianati Nuku. Namun siasat dan taktik yang dikembangkan
oleh Nuku
berhasil meredam kekuatan para pengkhianat itu.
Nuku
diakui oleh para pengikutnya sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri
Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad Muhamad Aminudin Syah Kaicil
Paparangan. Pada 14 November 1805 yang bertepatan dengan tanggal
21 Syahban
1220
meninggal dunia dalam usia 67 tahun.
26
D. Pembentukan Pemerintahan Kolonial
D.1. Pemerintahan VOC.
Pada masa
Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), gubernur jenderal
merupakan
penguasa tertinggi di Hindia. Ia mempunyai kekuasaan yang nyaris tak
terbatas
seperti halnya seorang raja absolut karena tidak ada undang-undang yang
khusus
mengatur hak-hak dan kewajibannya. Demikian pula dengan struktur
pemerintahannya
di Asia, khususnya Hindia Timur juga tidak ditentukan. Salah satu
pasal
yang penting dari oktroi VOC adalah hak monopolinya, sehingga dengan
haknya
itu VOC merupakan satu-satunya badan dari Belanda yang boleh
mengirimkan
kapal-kapal ke daerah sebelah timur Tanjung Harapan.
Dalam
melaksanakan pemerintahannya, gubernur jenderal didampingi oleh
Raad van Indië (dalam prinsipnya terdiri
atas enam orang anggota dan dua anggota
luar
biasa, di mana gubernur jenderal merangkap sebagai ketua). Laporan-laporan
mengenai
aktivitas VOC secara berkala dikirimkan ke dewan Heeren XVII, yang
merupakan
pimpinan pusat VOC yang berkedudukan di Amsterdam.
Dalam
menangani wilayah kekuasaannya, VOC lebih banyak melakukannya
melalui
pemerintahan tidak langsung. Hanya daerah-daerah tertentu saja, seperti
Batavia,
yang diperintah secara langsung oleh VOC. Dalam sistem seperti ini, kaum
pribumi
nyaris tidak terlibat dalam struktur kepegawaian VOC. Meskipun kaum elit
pribumi
terlibat dalam pemerintahan, tetapi status mereka bukan pegawai VOC dan
tidak
digaji secara tetap oleh kongsi dagang tersebut. Para elit pribumi lebih banyak
diperlakukan
sebagai mitra kerja demi kepentingan VOC. Hal ini terlihat jelas di
daerah-daerah
yang diperintah secara tidak langsung. Di daerah semacam itu, VOC
membiarkan
struktur lama (tradisional) tetap berdiri. Melalui para elit tradisional
inilah
kepentingan VOC disalurkan, antara lain dalam hal penarikan-penarikan wajib
hasil
produksi serta pajak-pajak yang dikenal dengan sistem leverantie dan
contingenten (leveransi dan kontingensi).
27
D.2. Masa Peralihan (Proses menuju Hindia Belanda)
Pemerintahan Daendels. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, sebenarnya VOC
sudah
tidak ada sejak tahun 1796. Akan tetapi, baru pada tanggal 1 Januari 1800—
setelah
masa berlaku oktroi-nya berakhir—pembubaran VOC secara resmi
diumumkan.
Berkenaan dengan hal itu, semua utang-piutang kongsi dagang itu
menjadi
tanggung jawab pemerintah Belanda. Demikian pula dengan daerah
kekuasaannya.
Peralihan
kekuasaan dari VOC ke pemerintah Belanda sendiri tidak
membawa
dampak yang cukup berarti bagi wilayah Hindia Timur. Hal ini antara lain
karena di
Negeri Belanda sendiri masih terjadi kekacauan setelah Napoleon
Bonaparte dari Prancis menyingkirkan Raja Willem van Oranje dan
mendudukkan
saudaranya,
Louis Napoleon, sebagai raja baru Belanda.
Dalam
masa perlihan ini, pemerintah Belanda yang baru belum
memperhatikan
daerah koloninya sehingga para pejabat di wilayah Hindia Timur
masih
dipegang orang-orang lama. Akan tetapi, para pejabat Belanda di Hindia
sendiri
dilanda kebimbangan setelah adanya surat edaran dari Raja Willem yang
meminta
agar wilayah Hindia diserahkan kepada Inggris. Akibatnya, mereka bingung
untuk
memilih menuruti perintah raja Belanda yang baru (Louis Napoleon) atau raja
Belanda
yang lama (Raja Willem).
Dilema
yang dihadapi oleh para pejabat Belanda di Hindia tidak berlangsung
lama
karena pada tahun 1808 Louis Napoleon mengirimkan Marsekal Herman
Willem Daendels ke Batavia untuk menempati
posnya sebagai Gubernur Jenderal
Hindia
Timur. Daendels (yang berkuasa antara tahun 1808-1811) dapat dikatakan
sebagai
Gubernur Jenderal pertama yang mewakili raja Belanda dan sekaligus pula
sebagai
pemerintahan kolonial pertama di Hindia (sebagai catatan: VOC merupakan
kongsi
dagang yang berada di bawah Heeren XVII). Daendels sendiri dikenal
sebagai
sosok pemuja prinsip-prinsip pemerintahan yang revolusioner, perpaduan
antara
semangat pembaruan dan metode-metode kediktatoran.
28
Tugas
utama Daendels adalah melakukan reorganisasi pemerintahan serta
mempertahankan
wilayah ini dari kemungkinan datangnya serangan Inggris.
Sebenarnya,
pada saat itu secara militer kondisi tentara kolonial Hindia Timur yang
menggantikan
VOC tidak terlalu besar. Sebagai contoh, ketika Daendels tiba di
Jawa,
garnisun Belanda di Yogyakarta hanya berjumlah sekitar 89 orang serdadu.
Kebanyakan
di antara mereka masih sangat muda atau terlalu tua, dengan disiplin
yang
relatif rendah. Sebaliknya, pada saat yang sama Kerajaan Yogyakarta
mempunyai
1.765 orang prajurit reguler, yang sewaktu-waktu dapat ditingkatkan
jumlahnya
hingga 100.000 prajurit. Akan tetapi karena kerajaan-kerajaan di Jawa
saling
curiga sementara di istana mereka terdapat berbagai intrik dan kepentingan
politik,
keunggulan tersebut sama sekali tidak dimanfaatkan untuk membebaskan
dirinya
dari cengkeraman Belanda.
Di
Yogyakarta Sultan Hamangkubuwono II bertengkar dengan saudarasaudaranya,
terutama
Pangeran Natakusuma yang cerdik, cakap, dan berpengaruh di
istana.
Kondisi ini diperburuk lagi oleh tindakan Sultan yang mengganti para pejabat
lama
dengan orang-orang yang disukainya, walaupun orang itu kurang cakap. Para
mantan
pejabat yang dongkol ini kemudian berkomplot dengan sebuah kelompok
istana
yang berada di sekeliling putra mahkota.
Pada masa
Daendels, pemerintahan di Jawa dipusatkan dan langsung berada
di bawah
kekuasaannya. Salah satu tuntutan Daendels yang paling menyakitkan rajaraja
Jawa
adalah tututan agar para penguasa di Surakarta dan Yogyakarta
memperlakukan
utusan-utusan dari pemerintah Hindia Timur sebagai wakil
pemerintahan
Eropa sehingga mereka harus diperlakukan sederajat dengan raja-raja
Jawa
sendiri. Tentu saja hal itu merupakan pelanggaran terhadap tradisi yang ada,
yang
telah disepakati pula oleh VOC. Pada masa VOC, para utusannya diperlakukan
sebagai
duta-duta dari sekutu kepada sekutu lainnya, yang berarti kedudukannya
tidak
sederajat dengan raja. Susuhan Pakubuwono IV menerima perubahan ini,
sementara
Sultan Hamangkubuwono II menolaknya.
Daendels
bertindak tegas terhadap pembangkangan ini. Dia datang ke
Yogyakarta
dengan membawa 3.200 serdadu (sebagain besar adalah orang pribumi)
29
dan
memaksa Sultan Hamangkubuwono II turun dari takhtanya. Kemudian ia
menunjuk
putera mahkota sebagai gantinya dengan gelar Sultan Hamangkubuwono
III
(1810-1811, 1812-1814). Selain itu, Daendels memperoleh 500.000 gulden
sebagai
pampasan dari Yogyakarta.
Sebelum
kedatangan Daendels, pasukan Inggris (dalam rangka perang
melawan
Napoleon) sebenarnya telah menguasai beberapa wilayah Hindia Timur.
Pada
tahun 1795, pasukan Inggris menduduki Padang dan Malaka dan tahun
berikutnya,
pasukan Inggris merebut Ambon. Selain itu, armada laut Inggris juga
memblokade
Batavia sehingga mengacaukan pendapatan pemerintah Belanda.
Ancaman
pasukan Inggris terhadap Pulau Jawa sendiri semakin kuat setelah
pangkalan
Perancis di Mauritius jatuh ke pihak mereka pada tahun 1810.
Politik
Daendels pada dasarnya hanya memprioritaskan pertahanan di pulau
Jawa.
Untuk keperluan mobilitas pasukannya, dia membangun jalan dari Anyer
sampai
Panarukan, yang terkenal sebagai jalan pos besar (het grote postweg).
Namun
sebelum
serangan Inggris tiba, Daendels ditarik ke Eropa dan kedudukannya sebagai
gubernur
jenderal digantikan oleh Jan Willem Janssens, yang sebenarnya
mempunyai
reputasi buruk dalam peperangan. Ia telah dikalahkan Inggris di Tanjung
Harapan
pada tahun 1806.
Pemerintahan
Janssens di Hindia hanya bertahan beberapa bulan saja. Pada
Agustus
1811, armada Inggris mendaratkan pasukan di Batavia. Janssens mundur ke
Semarang
dan bergabung dengan Legium Mangkunegara dan prajurit-prajurit
Yogyakarta
dan Surakarta. Akhirnya, seperti di Tanjung Harapan, pada 18
September
1811, Janssens menyerah kepada pihak Inggris di Kalituntang, Salatiga.
Pemerintahan Raffles. Setelah Janssens
menyerah, Gubernur Jenderal Inggris di
India, Lord
Minto, menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur
Jawa
(1811-1816). Pada awalnya, raja-raja Jawa menaruh harapan dan merasa
senang
atas perubahan pemerintahan dari Belanda ke Inggris.
Penguasa
lokal yang paling antusias menyambut pemerintahan Inggris adalah
Hamengkubuwono
II. Setelah merebut kembali takhta Kerajaan Yogyakarta dari
30
tangan
anaknya, dia memerintahkan untuk membunuh Patih Danureja II.
Hamangkubuwono
II berani bertindak demikian, karena menurut penilaiannya,
Raffles
sebagai musuh Belanda, tentu akan berpihak kepadanya. Meskipun Raffles
adalah
musuh ‘Revolusi Perancis’, namun dia juga seorang ‘liberalis’. Seperti
halnya
Daendels, dia membenci sifat-sifat feodalistik yang sangat menonjol dalam
diri
Sultan Hamengkubuwono II.
Raffles
menganggap Sultan Hamengkubuwono II sangat berbahaya dan sulit
diajak
untuk bekerja sama. Posisinya berlainan dengan Pakubuwono IV dan
Mangkunegara
yang dinilai lebih supel dan mudah diajak kerja sama. Oleh karena
itu, pada
bulan Juni 1812, Raffles mengirimkan pasukan ke Yogyakarta yang terdiri
dari
1.200 prajurit kebangsaan Eropa dan India, yang didukung oleh 800 prajurit
Legiun
Mangkunegara. Istana Yogyakarta digempur dan dirampoknya. Perpustakaan
dan
arsip-arsip kerajaan dirampas, di samping sejumlah besar uang.
Hamangkubuwono
II kembali diturunkan dari tahtanya dan kemudian dibuang ke
Pulau
Penang. Kedudukannya digantikan kembali oleh putranya, Sultan
Hamangkubuwono
III.
Akan
tetapi kemenangan Raffles tersebut menimbulkan perselisihan antara
dirinya
dengan sekutu Jawanya, Pakubuwono IV. Penguasa Surakarta yang
menghendaki
hancurnya Yogyakarta, kecewa dengan kebijakan yang diambil Raffles
untuk
tetap mempertahankan eksistensi Yogyakarta. Kekecewaan itu semakin
bertambah
ketika penguasa Inggris mengambil alih tanah-tanah apanase milik
Surakarta
serta mengambil alih hak pengelolaan atas cukai lalu lintas dan pasarpasar.
Selama
pemerintahannya, Raffles masih sempat memperkenalkan satu sistem
perpajakan
baru, khususnya pajak tanah (landrent). Di samping itu, Raffles yang
menyukai
sejarah dan budaya, berhasil menulis sebuah buku tentang Jawa yang
berjudul History
of Java. Masa pemerintahan Inggris di Hindia Timur tidak
berlangsung
lama. Sesuai Perjanjian London bulan Maret 1814 yang disepakati
pemerintah
Inggris dengan Raja Willem van Oranje dari Belanda, pada tahun 1816
wilayah
Hindia Timur dikembalikan kepada Belanda.
31
D.3. Pemerintahan Kolonial Belanda
Setelah
Napoleon dikalahkan oleh pasukan koalisi, Willem van Oranje kembali
menjadi
raja di negerinya. naik tahta sebagai Souverein vorst (1814), kemudian
sebagai
raja (1815). Berdasarkan Groundwet (konstitusi Kerajaan Belanda),
kekuasaan
tertinggi atas wilayah jajahan berada di tangan raja. Demikian pula
dengan
kekuasaan undang-undang. Staten Generaal (parlemen) sama sekali tidak
diikutsertakan
di dalamnya.
Dengan
kekuasaannya itu Raja menunjuk tiga orang Commissaris Generaal,
yaitu C.Th.
Elout, G.A.G. Ph. Baron van der Capellen, dan A.A. Buyskes,
untuk
mengambil
alih jajahan Belanda di Asia dari tangan Inggris. Mereka diberikan
kekuasaan
besar mewakili Pemerintahan Agung (Raja). Sejak masa Commissaris
Generaal inilah, sebutan Oost Indië, atau Hindia Timur,
berganti menjadi
Nederlandsch Oost Indië (Hindia Belanda
Timur). Akan tetapi tidak lama kemudian
nama
tersebut berubah kembali menjadi Nederlandsch Indië (Hindia Belanda),
seperti
terlihat dalam Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1816.
Tugas
pokok yang dibebankan kepada van der Capellen dan kawan-kawan
adalah
membangun kembali sistem pemerintahan yang baik di Hindia. Tujuannya
agar
daerah koloni ini segera dapat memberikan keuntungan kepada negeri induknya,
yang
sudah banyak terlibat utang, termasuk utang-utang VOC. Akan tetapi kondisi
politik
di Hindia Belanda yang belum sepenuhnya aman sejak ditinggalkan Daendels.
Perlu
diketahui bahwa wilayah yang tercakup dalam negara kolonial Hindia
Belanda
itu pada awalnya hanya mencakup wilayah-wilayah taklukkan VOC atau
yang
diklaim sebagai taklukkan VOC. Kerajaan Aceh, Bangka dan Belitung
misalnya,
tidak termasuk Hindia Belanda, karena bukan taklukkan VOC. Akan tetapi
Singapura
dan Malaka termasuk Hindia Belanda karena bekas taklukkan VOC.
Namun
dalam perkembangannya kemudian wilayah Hindia Belanda mengalami
banyak
perubahan.
32
Pada saat
Commissaris Generaal memulai tugasnya, ada beberapa daerah
taklukkan
VOC yang menyatakan tidak terikat lagi oleh perjanjian dengan VOC
yang
telah runtuh. Sikap tersebut secara otomatis menyatakan bahwa mereka juga
tidak
terikat dengan negara kolonial Hindia Belanda. Dalam dua dasawarsa pertama
pendirian
negara kolonial Hindia Belanda, paling tidak ada tiga perlawanan atau
pemberontakan
yang dinilai sangat mengganggu kewibawaannya, yaitu perlawanan
Pattimura
di Maluku; perlawanan Diponegoro (de Java oorlog) di Jawa; dan
perlawanan
kaum Padri di Sumatera Barat.
Ada pun
yang menjadi landasan operasional di Hindia Belanda diatur
berdasarkan
Regeering Reglement (Peraturan Pemerintah, disingkat RR). Menurut
peraturan
ini, dalam menjalankan tugasnya gubernur jenderal (anggota Commisaris
Generaal) didampingi oleh Raad van Indië yang
beranggotakan empat orang.
Gubernur
jenderal bersama Raad van Indië inilah yang disebut sebagai
Pemerintahan Agung di Hindia Belanda. Sejak
tahun 1816, ada dua instansi yang
membantu
pekerjaan Pemerintahan Agung di Batavia ini, yaitu Generale Secretarie
(sekretaris
umum) untuk membantu Commisaris General dan Gouvernement
Secretarie (sekretaris pemerintahan) untuk membantu Gubernur
Jenderal. Namun
kedua
lembaga itu berumur pendek dan dihapuskan pada tahun 1819. Kedudukannya
kemudian
digantikan oleh Algemene Secretarie, yang bertugas membantu gubernur
jenderal
(terutama memberikan pertimbangan keputusan).
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa dalam hal-hal tertentu, struktur
birokrasi
pemerintahan Hindia Belanda sama dengan pemerintahan VOC. Adapun
perbedaan
yang cukup mencolok di antara keduanya berkaitan dengan kewenangan
gubernur
jenderal. Apabila pada masa VOC tidak ada aturan khusus yang mengatur
kewenangan
gubernur jenderal, sehingga dia dapat berimprovisasi sendiri dalam
menjalankan
pemerintahannya, maka pada masa Hindia Belanda terdapat peraturan
yang
mengatur kewenangan gubernur jenderal yang tertuang dalam RR. Begitu pula
dalam hal
pertanggungjawaban, apabila pada masa VOC gubernur jenderal
memberikan
laporannya kepada Heeren XVII, maka pada masa Hindia Belanda dia
bertanggung
jawab langsung kepada raja, melalui menteri jajahan.
33
Dalam
tata pemerintahan kolonial, Gubernur Jenderal didampingi oleh
Direksi atau departemen-departemen, yang namanya kemudian
menjadi
Departementen van Algemeen Bestuur. Dalam
perkembangannya, lembaga ini
seringkali
mengalami perubahan, baik dalam susunannya maupun hierarkinya, akibat
keadaan
di Hindia Belanda sendiri maupun di Eropa (termasuk Negeri Belanda).
Salah
satu peristiwa yang membawa dampak cukup besar pada tata pemerintahan
Hindia
Belanda adalah revolusi yang terjadi di Eropa pada tahun 1848. Sejak
revolusi
itu, dapat dikatakan bahwa di Eropa Barat tidak ada lagi raja yang berkuasa
mutlak.
Sebaliknya, para penguasa itu kini dibatasi oleh konstitusi. Dalam kasus raja
Belanda,
kekuasaannya dibatasi oleh Groundswet (konstitusi) tahun 1848.
Penerapan
Groundswet 1848 menyebabkan RR di Hindia Belanda berubah
dengan
terbitnya RR baru tahun 1864. Berdasarkan RR baru ini, Direksi yang
berada di
bawah gubernur jenderal dibubarkan dan diganti dengan departemendepartemen
baru,
yang masing-masing berdiri sendiri. Pada tahun 1933, terdapat
enam
departemen, yaitu sebagai berikut:
Departemen van Justitie
Departemen van Financien
Departemen van Binenland Bestuur
Departemen van Onerwijs en Eredeinst
Departemen Economische Zaken
Departemen Verkeer en Waterstaat.
Selain
keenam departemen sipil di atas, terdapat dua departemen militer, yaitu
departemen
peperangan dan marine (angkatan laut). Direktur dari departemendepartemen
sipil
diangkat oleh gubernur jenderal sedangkan panglima angkatan darat
dan laut
diangkat oleh raja.
Meskipun
ada upaya untuk melakukan modernisasi struktur birokrasi
pemerintahan
Hindia Belanda, namun dalam batas-batas tertentu struktur politik
sebelumnya
masih tetap dipertahankan, demi mempertahankan loyalitas, khususnya
loyalitas
para elit pribumi. Hal ini terlihat jelas dari struktur dan jabatan dalam
organisasi
pemerintahannya. Jabatan-jabatan teritorial di atas tingkat kabupaten tetap
34
dipegang
oleh orang-orang Eropa/Belanda. Jabatan tertinggi yang dipegang oleh
orang
pribumi adalah kepala kabupaten, yaitu bupati. Bupati ini dibantu oleh seorang
patih. Di
bawah tingkat kabupaten terdapat kewedanaan yang dijabat oleh seorang
wedana.
Kecamatan, yang dikepalai seorang camat, merupakan wilayah di bawah
kewedanaan.
Sedangkan jabatan kepala desa pada dasarnya tidak termasuk dalam
struktur
birokrasi pemerintah kolonial sehingga bukan merupakan anggota korp
pegawai
dalam negeri Hindia Belanda.
Korps
pegawai dalam negeri Hindia Belanda (Departemen van Binnenland
Bestuur), terdiri atas pegawai bangsa Eropa dan pribumi. Korp
pegawai Eropa
disebut Eropees
bestuur sementara korps pegawai negeri pribumi disebut inland
bestuur. Kedua korp pegawai ini secara umum disebut binnenland
bestuur (BB).
Dalam
bahasa pribumi BB ini disebut Pangreh Praja (Pemangku Kerajaan). Para
pejabat
pribumi inilah yang disebut kaum priyayi, suatu istilah yang sebelumnya
dipakai
di kerajaan Jawa.
Seperti
yang telah dikemukakan di atas, kepala desa tidak termasuk kategori
priyayi
karena tidak termasuk ke dalam barisan BB. Oleh karena itu, kepala desa
tidak
diangkat maupun digaji oleh pemerintah. Mereka dipilih langsung oleh rakyat
dan
digaji oleh rakyat pula, yaitu melalui tanah desa yang diserahkan kepadanya
selama
dia menjadi kepala desa. Tanah jabatan atau tanah gaji ini di beberapa daerah
di Jawa
disebut tanah bengkok.
Ketika
wilayah Hindia Belanda menjadi lebih luas akibat kebijakan politik
pasifikasi
dan pemantapan (pax nederlandica), kebutuhan tenaga kerja untuk
mengelola
administrasi negara semakin meningkat. Dalam hal ini tenaga-tenaga
pribumi
semakin banyak terserap ke dalam birokrasi pemerintahan. Selain itu,
pengawasan
pemerintah pun semakin menukik ke bawah. Meskipun jabatan teritorial
dari
tingkat kabupaten ke bawah masih tetap dipegang kaum pribumi, namun dengan
alasan
untuk mendampingi para pejabat itu maka diadakan jabatan-jabatan non
teritorial
setingkat kabupaten, kewedanaan dan akhirnya juga kecamatan. Apabila di
tingkat
kabupaten ada jabatan asisten residen, maka untuk tingkat kecamatan ada
jabatan controleur,
sementara di bawahnya lagi ada jabatan aspirant control
35
E. Pemerintah Pendudukan Jepang
Kedatangan
pasukan Jepang di Indonesia, pada umumnya disambut oleh
masyarakat
Indonesia sebagai pahlawan pembebas daripada sebagai pasukan agresor.
Bahkan di
beberapa tempat di luar Jawa, tidak sedikit kalang nasionalis pribumi yang
membentuk
perlawanan terhadap Belanda menjelang datangnya serangan Jepang. Di
Aceh
misalnya, para ulama Islam Aceh yang tergabung dalam “Persatuan Ulamaulama
Seluruh
Aceh” (PUSA-dibentuk tahun 1939) di bawah pimpinan Tengku
Mohammad Daud Beureu’eh (1899-1987)
telah menghubungi Jepang untuk
membantu
serangan Jepang terhadap Belanda. Di Minangkabau, para ulama secara
tidak
langsung juga membantu pihak Jepang dan berharap dapat menyaksikan
terdepaknya
para penghulu dari kekuasaannya.
Sebagai
balasannya, pada awal kekuasaannya, pemerintah Jepang banyak
memberikan
keleluasaan kepada kaum pribumi, seperti mengibarkan bendera merah
putih,
menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mengambil alih tanah-tanah
perkebunan
milik pengusaha Belanda. Sedangkan untuk memusnahkan pengaruh
Barat,
Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda dan bahasa Inggris, serta
berupaya
memajukan pengajaran bahasa Jepang. Selain itu, kalender Jepang juga
diberlakukan
menggantikan kalender Masehi.
Akan
tetapi dalam situasi peperangan, Jepang harus memilih prioritasprioritas
tertentu.
Mereka cepat melakukan reorganisasi pemerintahan setempat dan
memadamkan
benih-benih revolusi yang mucul di beberapa daerah seiring dengan
runtuhnya
Hindia Belanda. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Jepang terpaksa
harus
bersandar kepada para ambtenar dari masa kolonial Belanda seperti;
uleebalang, di Aceh, penghulu di Sumatera Barat, para raja
di Sumatera Timur, dan
kaum priyayi
di pulau Jawa.
Sebagai
catatan, Jepang telah membentuk tiga tentara wilayah, satu untuk
Birma
(Myanmar), dua untuk Indonesia dan Malaya. Tentara ke-14 di Filipina dan
36
Tentara
Garnisun di Muangthai langsung di bawah Panglima Tentara Selatan.
Tentara-tentara
di wilayah Indonesia disusun sebagai berikut:
1. Pulau
Sumatera di bawah Tentara Angkatan Darat (Rikugun) ke-25 yang
bermarkas
di Bukittinggi, Sumatera Barat
2. Pulau
Jawa dan Madura di bawah Tentara Angkatan Darat ke-16, yang
bermarkas
di Jakarta. Kedua wilayah ini berada di bawah komando Angkatan
Darat
Wilayah ke-7 dengan markas besarnya di Singapura.
3.
Kalimantan dan Indonesia bagian Timur lainnya berada di bawah kekuasaan
Angkatan
Laut (Kaigun) Armada Selatan ke-2 yang bermarkas besar di Makasar.
Dengan
adanya pembagian ini tidak berarti bahwa di bagian Indonesia Timur
tidak ada
pasukan Rikugun. Di Maluku misalnya ditempatkan Tentara ke-19 dan
di Irian
Utara ditempatkan Tentara ke-2. Namun berbeda dengan Tentara ke-16
atau
ke-25, Tentara angkatan darat di daerah ini tidak mempunyai tugas
administratif,
karena tugas itu dipegang oleh angkatan laut.
Pada
masing-masing wilayah tersebut dipimpin oleh kepala staf
tentara/armada
sebagai seorang gubernur militer (gunseikan). Kantornya disebut
Gunseikanbu. Banyak orang Indonesia yang diangkat menjadi pegawai
pemerintah
untuk
mengisi tempat yang ditinggalkan oleh pejabat-pejabat Belanda, baik karena
ditawan
atau melarikan diri. Kebanyakan dari pejabat baru adalah berkebangsaan
Jepang.
Sedangkan bangsa Indonesia yang menjadi pejabat baru bangsa, umumnya
mantan
guru, termasuk guru agama Islam. Bahkan Jepang pernah mengangkat
seorang
kyai tradisional dari pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yaitu Kyai Haji
Ajengan Ahmad Sanusi sebagai wakil
residen Bogor. Menurut sejarawan Harry J.
Benda, hal itu merupakan satu fenomena yang menarik, yang
belum pernah terjadi
sebelumnya,
seorang pribumi menduduki jabatan lebih tinggi dari jabatan bupati
(Benda
1980). Hal ini menunjukkan bahwa Jepang mempunyai harapan khusus
terhadap
para ulama Islam, terutama dalam memobilisasi masyarakat Indonesia, yang
diyakininya
beragama Islam. Untuk keperluan itulah pada akhir Maret 1942, Jepang
mendirikan
sebuah kantor urusan agama (Shumubu) di Jawa.
Meskipun
para ulama atau para mantan guru itu dinilai loyalitasnya cukup
tinggi
daripada para priyayi, uleebalang atau penghulu, namun umumnya
mereka
tidak
mempunyai kemampuan dan pengalaman apa-apa dalam birokrasi
37
pemerintahan.
Akhirnya para pejabat lama terpaksa direkrut kembali untuk
menduduki
jabatan lamanya.
Kebijakan
di antara ketiga wilayah pemerintahan militer itu sangat berbeda.
Umumnya
Jawa dianggap sebagai wilayah yang secara politik dinilai paling maju
dan
dayanya yang utama adalah manusia. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan
Jepang di
wilayah ini dapat membangkitkan kesadaran nasional yang jauh lebih
mantap
dibandingkan dengan kedua wilayah lainnya. Meskipun demikian, secara
ekonomi
Jawa nilainya kurang penting, dibandingkan wilayah Sumatera dan
Kalimantan
yang kaya akan minyak dan beberapa sumber pertambangan lainnya
yang
sangat dibutuhkan industri perang Jepang. Akan tetapi karena pentingnya arti
perkembangan
masa depan, maka Jawa mendapat perhatian ilmiah yang lebih besar
daripada
pulau-pulau lainnya. Sementara wilayah di bawah angkatan laut, secara
politik
dianggap terbelakang walaupun mempunyai arti ekonomi yang tinggi.
Pemerintahan
militer di wilayah ini cenderung bersifat sangat menindas
dibandingkan
di wilayah Jawa.
Salah
satu upaya yang ditempuh pemerintahan Pendudukan Jepang untuk
mencari
dukungan sekaligus melibatkan bangsa Indonesia dalam peperangannya
adalah
melalui propaganda. Untuk keperluan itu maka pada bulan Agustus 1942
Jepang
membentuk Departemen Propaganda (Sendenbu). Secara resmi
disebutkan
bahwa
lembaga ini merupakan organ yang terpisah dari Seksi Penerangan Angkatan
Darat.
Namun dalam praktiknya lembaga ini selalu dipimpin oleh para perwira
Angkatan
Darat, seperti: Kolonel Machida Keiji (Agustus 1942 – Oktober 1943),
Mayor Adachi
Hisayoshi (Oktober 1943 – Maret 1945), dan Kolonel Takanashi
Koryo
(April 1945 – Agusyus 1945). Di bawah lembaga ini kemudian dibentuk
“Gerakan
Tiga A” di bawah pimpinan Mr. Syamsuddin, kemudian “Poetera” di
bawah “empat
serangkai”, dan “Jawa Hokokai” serta “Sumatera Hokokai”.
Organisasi
propaganda yang disebut terakhir ini mempunyai alat organisasi sampai
tingkat
desa yang disebut tonarigumi (Rukun Tetangga yang berkembang sampai
sekarang).
Melalui tonarigumi inilah dilakukan pengorganisasian, mobilisasi,
indoktrinasi
dan pelaporan rakyat Jawa atau Sumatera. Sejak bulan Februari 1944,
38
para
kepala desa menjalani kursus-kursus indoktrinasi. Melalui tonarigumi pula
terjadi
pengerahan para “pahlawan pekerja”, yang lebih dikenal dengan nama
romusha.
Lembaga Sendenbu
ini mempunyai 3 seksi, yaitu: (1) Seksi Administrasi, (2)
Seksi
Berita dan Pers, dan (3) Seksi Propaganda. Pada tahun 1943 lembaga ini
membantu
terbentuknya Keimin Bunka Shidosho (Lembaga Kebudayaan).
Keimin Bunka Shidosho dibentuk pada 1 April
1943. Peresmiannya
dilakukan
oleh Gunseikan tanggal 18 April 1943. Dalam kesempatan itu ia
menyebutkan
bahwa tujuan Pusat Kebudayaan itu antara lain: (1) menghapus
kebudayaan
Barat termasuk faham kesenian yang tidak cocok dengan sikap
ketimuran,
(2) membangun kebudayaan Timur untuk dijadikan dasar bagi
memajukan
bangsa Asia Timur (Raya), dan (3) menghimpun para seniman untuk
membantu
tercapainya kemenangan akhir dalam perang Asia Timur Raya. Untuk
yang
disebut terakhir, pemerintah Jepang memenga merekrut para seniman, termasuk
para
pelukis. Bahkan menerbitkan karya-karya mereka.
Berdasarkan
pernyataan itu, seolah-olah pemerintah Jepang menginginkan
terpeliharanya
dan sekaligus berkembangnya kebudayaan asli Indonesia dengan cara
melenyapkan
pengaruh Barat. Namun di sisi lain tersirat bahwa Jepang akan
berusaha
untuk menanamkan dan menyebarkan seni dan budaya Jepang, terutama
dalam
materi pendidikan dan kursus-kursus pelatihan guru (Syotah Kyohin Rensei)
yang
didirikan pada bulan Juni 1942. Dalam perkembangannya Pusat Lembaga
Kebudayaan
itu juga seperti Volkslectuur di zaman Hindia Belanda, yaitu berfungsi
sebagai
alat sensor terhadap karya-karya para seniman Indonesia. Buku-buku yang
diterbitkan
oleh lembaga itu hanyalah karya yang sesuai dengan kepentingan perang
Jepang.
Beberapa karya mencerminkan hal ini, misalnya karya: A. Kartahadimadja
berjudul “Sebuah
Bingkisan” yang dimuat dalam Djawa Baroe. Kemudian karya
Soetomo
Djauhar Arifin “Pemuda Pantjaroba” dan karya Karim Halim, “Arus
Mengalir” yang juga dimuat
dalam media yang sama.
Semoga ada manfaatnya ya.. :):D
Download Filenya , klik "download"
Download
Sumber : staff.ui.ac.id/internal/130891664/material/PHKI-2.pdf
Download Filenya , klik "download"
Download
Sumber : staff.ui.ac.id/internal/130891664/material/PHKI-2.pdf